20
Mar
09

…bukan ini yang aku mau…

Mahligai pernikahan mungkin telah dinanti oleh semua orang….
Kehidupan rumah tangga yang bahagia, penuh rasa kasih sayang…
Tapi, bagaimana kalo semua itu tidak sesuai dg apa yg kita harapkan?
Ok mungkin secara bathiniah kita terpenuhi tp kalau secara lahiriah itu tidak terpenuhi apakah akan berjalan mulus?

Waallahu’alam….
Aku banting tulang untuk mencari uang guna menghidupi kebutuhan rumah tangganya dan kebutuhan org tuanya krn mengingat kami masih nebeng dg org tua krn blm sanggupnya kami membeli rumah.
Tapi, Suamiku hanyalah pengangguran dan ini sudah dr awal menikah dgku dia sdh menganggur. Ya semua ini yang mengatur itu Allah tp kalau kita tidak ikhtiar jg gmn bisa?
Berkali-kali aku selalu mengatakan pada suamiku kalau aku sudah lelah dengan semua ini. Aku capek melihatnya menganggur terus dan blm bisa membantuku mencari nafkah. Lantas siapa sebenarnya yg jadi kepala keluarga aku atau dia?
Tapi, jawaban yang selalu terlontar dr bibirnya hanyalah kata2 maaf dan dia selalu berdo’a memohon kebaikan.
Berdo’a memang kewajiban kita sbg Hamba-Nya tp yang aku butuhkan saat ini adalah materi untuk membantu aku mencukupi kebutuhan hidup kami yg trs meningkat.

Gengsi, ya, suamiku sangat gengsi kalau hanyalah bekerja sebagai OB sekalipun. Tapi, apakah kita akan makan dengan gengsi? apa yg perlu dibanggain dr seorg pengangguran yg mempunyai gengsi yg gede? Sedangkan utk membeli krupuk saja susah, terus apakah tetap pada gengsinya?

Marah, sakit, terbebani sekali hatiku ini terlebih aku harus menyembunyikan status suamiku dimata kedua org tuaku…
Apakah aku kurang sabar?
Apakah aku kurang pasrah?
Atau aku kurang ikhlas?
2,5 th aku hidup dalam dilema ini…tapi aku terus bertahan, sabar, ikhlas dan pasrah. Apakah kurang pengorbananku selama ini?

Ya Allah tolong kuatkan aku…Hamba takut kalau saja Hamba tak kuat menjalani ujian-Mu ini Ya Allah…
Aku Takut GILA !!!!!

Suamiku, kemana tanggung jawabmu sebagai seorg suami yang harusnya memberikan nafkah padaku dan bukan sebaliknya.
Sudah cukup 2,5 th kau hidup dalam leha-leha…kini saatnya kamu memenuhi tanggung jwbmu….
Satu hal yang aku takutkan lagi, jikalau aku tak kuat menahan dilema ini dan suatu saat akan meledak jg bak gunung meletus dan akhirnya semua terbongkar dan habislah sudah….
Aku tkaut aku khilaf dan mengucapkan kata2 yg sehrsnya tak harus aku ucapkan…
Tak sadarkah engkau suamiku melihat istrimu ini membeli selembar baju saja harus rela mengutang pada temannya dan membayarnya pd saat aku gajian? Dimana sisi Simpati dan Empatimu thdpku?
Ataukah kamu sudah nyaman menjadi pengangguran karena selama ini aku berusah memnuhi semua kebutuhanmu?
Astaghfirullahadzim….

Aku gak kuat lagi, aku capek, lelah, frustasi….Ampuni aku Ya Allah….

20
Feb
09

…Rindu…

Rindu…, rindu terhadap suami, istri, anak, ayah dan ibu dan keluarga yang lainnya…

Tau mungkin rindu terhadap sahabat lama…sahabat yg dulu sering menemani kita disaat sedih, susah, senang.
Ya, aku punya sahabat yg selalu ada buat aku ketika aku belum berumah tangga.
Suaranya, joke2 kecilnya yg selalu bikin aku selalu rindu padanya.

Tp, setelah aku memiliki suami dia mulai menjaga jarak dg aku katanya dia menghargai perasaan suamiku dan dia gak mau suamiku cemburu padanya. Kuakui kami sangat dekat saat masih sama2 kuliah dulu dan suamiku pun tau itu dan suamiku pun cukup cemburu pada sahabatku ini.

Never Mindlah selama kami tau batasan2nnya Insyaallah kami akan ttp menghargai pasangan kami masing2.
Aku sayang banget sama sahabatku ini, entah kenapa 1 mgg ini rindu banget sama dia dan aku ingin dia ada disampingku. Tapi kembali lagi kini aku tak sebebas dulu setiap yg akan aku lakukan haruslah seijin suamiku.
Huff…memang sahabatku ini msh single, dan msh giat meneruskan kuliah S2nya.
Pernah suatu ketika aku chatting dengan sahabatku tiba2 dia nyeletuk memanggilku “yank”. Kaget dan heran memang “Yakin lo manggil gw bgt?” aku kembali memastikan kesahabatku.
“Mang kenapa? Gak boleh ya?” tanya sahabatku..
“Boleh aja seh, tp apa lo kagak salah manggil tuch? takutnya lo salah manggil aja” aku berusaha memastikan kembali meski dalam hatiku sangat senang dan bahagia dengan panggilan itu. Disisi lain aku bertanya2 pd diriku sendiri, salah gak seh aku bgn? Apakah ini jg yg dinamakan kalo aku udah selingkuh hati?…

Tak kupingkiri kalo dalam benak pikiranku selalu terbayang sahabatku itu tp, entah kenapa rasa rindu itu hanya muncul jikalau aku ada seharian di kantor, sedangkan kalau di rumah rasa rindu itu terobati dengan adanya suamiku. :) aneh ya memang…
Tau lah aku juga bingung dengan yang aku rasakan saat ini…

Buat sahabatku, aku kangen dan rindu banget sama kamu… :)

19
Feb
09

…Pengorbanan Seorang Ibu…

Beberapa hari ini di berbagai televisi menyiarkan kasus seorang ibu yang bernama Dorkas Silitonga, yang telah 6 tahun menunggu kehadiran sang buah hati. Akhirnya Allah menjawab do’a2 Ibu Dorkas dan suaminya. Alhamdulillah setelah 6 tahun menunggu akhirnya Ibu Dorkas mengandung jg.
Bulan demi bulan beliau lalui tanpa masalah yang berarti. Tiba akhirnya beliau melahirkan buah hatinya. Alhamdulillah buah hatinya lahir dengan selamat dan sehat wal’afiat. Namun sungguh disayangkan sekali, setelah operasi caesar, Ibu Dorkas langsung tak sadarkan diri hingga dalam waktu yang cukup lama. Baru dalam waktu 3 bulan beliau sadar dari komanya yang berkepanjangan.
Namun, sungguh disayangkan sekali beliau tidak bisa merawat sang buah hati yang telah ia nantikan kehadiran. Akibat dari koma yang berkepanjangan beliau harus tetap terbaring kaku di atas tempat tidur, hanya untuk makan dan minum ia harus dibantu oleh keluarganya. Dan ia hanya bisa makan dalam bentuk cair yang disalurkan melalui selang di hidungnya…

Allahu Akbar, sungguh malang si buah hati. Sejak lahir ia tidak pernah merasakan hangatnya dekapan seorang ibu. Dia pun tidak bisa merasakan nikmatnya Air Susu Ibunya. Ibu Dorkas pun begitu merindukan sang anak, belum lagi telah banyak biaya yang telah dikeluarkan keluarganya untuk menebus biaya rumah sakit dan obat2annya. Tak tanggung ratusan juta sudah dihabiskan dan itu pun masih kurang 3 juta lagi.
Anehnya pihak rumah sakit saat dimintai konfirmasinya seolah2 tak mau bertanggung jawab. Katanya semua operasi berjalan dengan mulus dengan alat2 yang komplit. Tapi nyatanya? Apa yang terjadi pada Ibu Dorkas setelah operasi pihak rumah sakit tak mau bertanggung jawab. Lantas siapa yang harus bertanggung jawab atau yang harus disalahkan? IBu Dorkas yang tak berdaya? Atau si Dokter yang telah melakukan Mal Praktik? Waalluhu’alam Hanya Allah Ynag Maha Tahu…
Ya Allah, berikan keadilan di dunia ini.
Kembalikan kesehatan Ibu Dorkas seperti sedia kala sehingga dia bisa merawat dan bermain nersama anak2nya. Amien…

Kejadian seperti ini dulu pernah juga dialami oleh Ibu Agil dari Bogor, yang hingga 6 tahun dia dalam keadaan koma. Dan Alhamdulillah kini kesehatannya berangsur2 membaik. Aku gak tau tuh berapa biaya yang telah keluarganya keluarga. Tapi jujur, kau salut dengan suaminya yang tetap optimis, sabar, ikhlas dan pasrah dengan kesembuhan sang istri.
Subhannallah, dunia ini memang begitu kaya ya?
Disaat seorang ibu sangat menginginkan dirinya untuk bisa hamil dan membuktikan kepada orang2 yang telah mencemooh dirinya, dia pun jg harus melalui ujian yg sangat berat. Setelah dia melahirkan harus mengalami kejadian yg sangat menyedihkan bagi anak, suami dan keluarganya.
Dari ke-2 kasus ini kita tahu bahwa pengorbanan seorang ibu sungguh besar. Di saat melahirkan dia mempertaruhkan nyawanya demi si anak.
Terkadang aku miris melihat ibu yang tega membuang bayinya darah dagingnya sendiri yang telah susah payah ia lahirkan toh akhirnya akan ia buang juga. Entah dengan alasan perselingkuhan, tidak siap memiliki bayi karena anaknya sudah banyak atau apalah tapi menurutku itu tetap dosa. Kemana akal sehat mereka? Tega melakukan itu semua pd anak yang tak berdosa. Padahal masih banyak seorang ibu yang belum bisa memiliki buah hati dari rahimnya sendiri. Anak itu kan Amanah dari Allah yang harus kita jaga dan rawat sebaik2nya. Bukan untuk dibuang. Ya mungkin satu2nya cara bisa kan dititipkan di Panti Asuhan untuk bisa diadopsi bukan untuk dibuang di selokan, di kali ato dimana aja.

Astaghfirullahaladzim…Ibu, maafkan atas semua dosa2 kami selama ini. Engkau telah melahirkan, memberikanku ASI, merawatku hingga kini aku telah berumah tangga dan Insyaallah Atas Ijin Allah suatu saat nanti aku pun jg bisa mengandung. Ampuni dosa2 kami Ibu, yang pernah melukai perasaanmu. Pengorbananmu tidak dapat diukur atau diganti dengan apapun jua. Tak ada yang bisa membalas semua pengorbanan untukku selama ini. Hanya do’a yang bisa ku panjatkan semoga Ibu mendapatkan tempat yang indah disisi Allah dan Ibu kembali pada Allah dalam keadaa Khuznul Khotimah…Allahumma Amien

Hal yang utama dalam hidup ini adalah rasa syukur. Karena hanya dengan rasa syukurlah InsyaAllah Allah akan selalu mempermudah jalan kita menjalani setiap ujian yang Dia berikan.
Sabar, Ikhlas dan Pasrah pun sama pentingnya dengan rasa syukur. Karena Sesungguhnya hanya Allah yang Mengatur apa yang akan terjadi pada Hamba-Nya.

Syukur, Sabar, Ikhlas dan Pasrah, kedengarannya memang sepele ya? tapi ke-4 hal ini sangat susah untuk dilakukan manusia yang masih mempunyai kesempatan menikmati dunia.
Mari kita sama2 menjalani ke-4 hal diatas Insyaallah Allah akan membantu di setiap kesusahan2 kita. Karena dibalik kesusahan ada kemudahan dan dibalik kemudahan ada kesusahan. Waallahu’alam

18
Feb
09

…Saudaraku…

Saudara-saudaraku, dimana kalian berada?
Disaat adik kalian sedang membutuhkan bantuan kalian, kalian seakan2 menjauh. Tetapi, disaat kalian yang membutuhkan adik kalian, seolah2 adik kalian tidak bisa menolak permintaan mereka.
Kalian sangat2 tidak adil mbak, mas pada adik kalian ini.
Terlebih disaat adik kalian ini sangat membutuhkan bantuan materi dari kalian, kalian langsung menarik diri, 1000 alasan keluar dari bibir kalian.
Padahal adik kalian tidak pernah perhitungan pd kalian sebagai kakak2ku.

Apa yang harus aku lakukan? Kecewakah, Marahkah, atau Sedih? Aku tak menyangka kalian akan berbuat setega ini terhadap adik kalian ini.
Belum lagi orang tuaku yang selalu ingin aku perfect sama seperti kedua kakak2ku.

Astaghfirullahaladzim…Kenapa YA ALLAH mereka tega membuatku sakit hati dan kecewa terhadap mereka semua?. Aku lebih baik tidak dilahirkan ke dunia ini kalau aku tahu akan begini akhirnya.

Apakah aku kurang sabar, kurang ikhlas?
Lantas siapa yang harus aku salahkan? Diriku, suamiku atau siapa?
Bagi mereka aku adalah sebuah pohon yg kering dan tandus. Karena aku belum bisa memberikan apa yg orang tuaku inginkan. Tidak seperti kedua kakak2ku, bagi orang tuaku kedua kakakku adalah sebuah pohon yang subur karena sering diberikan pupuk jadi mereka bisa memberika penghidupan bagi kedua orang tuaku.

Ya Allah, kenapa orang tuaku sendiri setega itu thd anaknya? Dan sebaliknya mertuaku sangat sayang terhadapku. Kalau aku boleh memilih aku lebih baik jadi anak kandung dari mertuaku. Astaghfirullahaladzim….
Banyak teman2 ku yang memiliki pengalaman yang kurang akur dengan mertua-mertua mereka, dan mereka lebih memilih untuk tinggal bersama orang tua mereka sendiri ketimbang dg mertua mereka. Tapi aku kebalikan dari mereka..Ya, aku lebih baik tinggal dan hidup bersama mertuaku ketimbang dg orang tuaku sendiri.
Jujur, aku tidak mau menjadi anak yang durhaka thd orang tuanya. Tapi, orang tuaku jg yang memaksa aku untuk melakukan ini semua. Dan hanya aku dan suami yang merasakan pahitnya tinggal bersama orang tuaku.
Jujur, aku dan suami sangat ikhlas melakukan semua perintah2 mereka meski sering kali aku dan suami merasakan sakit hati yang sangat amat. Tapi, hanya inilah yang bisa aku lakukan untuk mereka.

Saudara2ku, aku sudah mengikuti keinginan kalian utk tinggal bersama org tua kira tp kalian tidak pernah mau tau rasa sakit yg kami alami selama tinggal bersama mereka. Dan kalian pun tak pernah mau membantu kesusahanku.

Haruskah aku teriak menjalani ini semua? Tidak, mungkin aku hanya bisa menangis Allah Sang Maha Pencipta. Hanyalah Dia yang berkuasa di dunia ini. Aku nggak pernah tau kalau saja aku sudah jauh dari Allah pasti aku sudah gila. Tapi, Alhamdulillah Allah masih setia menemaniku menjalani ujian hidup ini.

Aku nggak pernah tau apakah hanya aku yg merasakan kesedihan ini atau mungkin ada yg lebih parah dari aku? Waallahu’alam…

Kuatkan Aku dan Suamiku dalam menjalani setiap Ujian dan Cobaan yang Engkau berikan pada kami…Ya Allah, Kami berdua sangat ikhlas dan pasrah menjalani semua yang Engkau berikan pada kami berdua Ya Allah, karena sesungguhnya Engkau Maha Penyayang…Amien

17
Feb
09

Hutang

Hutang…
Mungkin hampir setiap orang di dunia ini memiliki hutang meski hutnag itu berjumlah sedikit sekali tapi tetep saja namanya HUTANG.
Sekecil apapun hutang yang kita miliki itu pasti akan membuat hati kita was-was dan kepikiran terus bagaimana kita melunasinya sedangkan untuk mencukupi kebutuhan sehari2 saja kita masih sangat kurang.
Lantas, bagaimana dengan orang yang sudah bergelimang harta memiliki hutang tp dia juga tak kunjung melunasinya seperti Harun. Katakanlah hutang Harun yang dalam jumlah yg besar bisa dia lunasi tetapi, dalam jumlah yg kecil dia tak kunjung melunasinya. Apabila di tagih Harun malah marah-marah seolah2 org yg memberikan pinjaman itu nggak ikhlas. Padahal Harun meminjam uang itu dari sahabatnya sendiri yaitu Dyah dan sejak dari awal Harun menjanjikan bahwa dalam waktu 1 minggu dia akan melunasi hutangnya pada Dyah.

Waktu 1 minggu pun telah berlalu Dyah bermaksud menanyakannya pada Harun karena saat itu Dyah sangat membutuhkan uang tersebut. Dikirimkannya oesan singkat untuk Harun
“Run, mana duitku kok belum kamu balikin? Aku butuh duit itu sekarang.”
Harun pun membalas ” Maaf Dyah, kalo minggu depan gmn?” ” Oke” jawab Dyah.

Waktu 2 minggu yang telah dijanjikan Harun pun telah berlalu Dyah menunggu kedatangan Harun dengan penuh cemas. 1 hari, 2 hari, 3 hari Harun tak kunjung datang akhirnya Dyah mengirim pesan singkat itu kembali.
“Run, mana uang 300 ribu yang kamu pinjam? Ini udah lebih dari 2 minggu lho.” Harun tak kunjung membalas pesan singkat itu. 1 jam kemudian Harun pun membalas “Dyah, sorry lagi aku belum punyaduit.”
Dengan kesal Dyah membalas “Gimana seh kamu katanya 1 minggu, terus mundur 2 minggu, skrg bilangnya mundur lagi. Aku butuh uangnya sekarang.”
Harun langsung membalas “Alah kamu itu lho baru 300 ribu aja udah ketakutan gak aku bayar apalagi jutaan? Gak ikhlas bgt sih kamu nolong temen?”
Dyah semakin kesal “Kalo aku gak ikhlas kemaren gak aku kasih pinjem kamu, sekarang yg 300 ribu aja gak kamu lunasi apalagi jutaan? Katanya kerjanya dah oke? Kok bayar segitu aja gak kuat seh kamu? Pas minjem aja kamu bermulut manis begitu ditagih mulutmu tajam.”

Dyah kesal, sedih dan tidak menyangka sahabatnya sendiri tega melukai perasaannya. Padahal dia dan keluarga Harun sangat dekat.
Dyah bingung mesti kemana dia mencari pinjaman uang untuk membayar kekurangan biaya kuliahnya.
Dyah tetap berharap bulan depan Harun bisa melunasi hutangnya. Tapi harapan Dyah salah besar tak ada niatan baik dari Harun untuk melunasi hutangnya. Akhirnya Dyah mengikhlaskannya dna mulai menjaga jarak dengan Harun.

Tahun 2004 Harun kembali hadir dalam hari-hari Dyah. Dia sering sekali menelpon Dyah hanya untuk menayakan kabar Dyah. Hingga pada suatu ketika Harun mengungkapkan kalu dia sangat rindu dengan Dyah dan dia ingin Dyah menjadi kekasihnya. Karena kini Harun telah bekerja di perusaan ternama di Indonesia ini dengan jabatan yang bagus. Dyah hanya diam seribu bahasa menanggapi keinginan Harun.
Pernah Dyah mencoba mengingatkan Harun akan hutangnya pada Dyah, “Alah kamu masih inget aja sih lagian udah lama gitu kenapa gak diikhalisin aja seh?” jawab Harun dengan entengnya.
Dyah takjub akan jawaban Harun yang sangat menyepelekan hutangnya. Lama kelamaan Dyah malas meladeni Harun tapi Harun tetap intens menghubungi Dyah.

Hingga pada akhirnya Dyah mempunyai rencana untuk menikah dan dia membutuhkan uang itu dengan seribu keberanian dia menghubungi Harun. Tapi, semuanya sia2 tidak ada niat baik sama sekali dari Harun. Benar2 sakit hati Dyah dan kecewa terhadap Harun yang sejak kecil telah Dyah anggap sebagai sahabatnya.
Bak di sambar gledek tiba2 Harun menelpon Dyah dengan marah2 “Kamu mo Merid Dyah? Terus aku gmn? Kamu tinggal begitu aja? Aku sudah beli rumah buat kamu, tahun depan pas ultah kamu aku mo lamar kamu Dyah.” “Kamu sudah telat Harun tinggal 1 bulan lagi aku nikah, lagian nggak ada niat baik dari kamu selama ini.” Dyah menjawab telepon HArun dengan penuh kecewa. Karena sesungguhnya Dyah telah menaruh harapan yg byk pada Harun jauh sebelum dia menemukan calon suaminya.

Mungkin hati Dyah terbuat dari emang dia tetap mengikhlaskan semua hutang Harun, dan tetap ingin menjalin hubungan yang baik seperti dulu anatara dirinya dan Harun. Dikirimkannya undangan pernikahan Dyah pada Harun, tapi, tak ada respon dari Harun. Harun tak hadir dalam pernikahan Dyah dan hanya sekedar ucapan selamat untuk Dyah pun tak ada. Sedih bercampur kecewa yang Dyah rasakan, tp disisi lain Dyah bersyukur bukan Harun yg dia pilih sebagi pendamping hidupnya.

2 tahun telah berlalu, dengan isengnya Dyah tanya kabar tentang pernikahan Harun “Katanya kamu mo nikah ya?” dengan sinis Harun menjawab “Cuman katanya kan?”
Dyah kesal “Kamu berubah sok metropolis gitu jawabnya.” Tak di sangka gurauan Dyah dianggap serius oleh Harun bagi Harun itu adalah Statement yg menyakitkan hatinya.
Dyah tertawa kecil “Statement kata kamu? Kaya artis aja” dan tak disangka Harun dengan mudahnya memutuskan tali persahabatan mereka karena dia sangat marah dengan Dyah yg mengeluarkan kata2 SOK METROPOLIS.

Dyah tak menyangka ini semua terjadi, tapi memang kenyataannya dia seperti itu sekarang dan bukan hanya Dyah yg menganggapnya spt itu semua teman2nya menganggap hal yg sama.
Tapi ya sudahlah Dyah harus terima. Yang tidak masuk diakal sekali kalau Harun mau memutuskan persahabatan kenapa tanggung jawabnya belum di lunasi?
Dyah, kasian sekali ma Harun yang bergelimang harta tp mungkin miskin hati…biarlah dia menikmati kejayaannya yang hanyalah SEMU ini..

Dari sepenggal cerita diatas sangat penting bagi kita untuk melunasi HUTANG. Karena kita tidak pernah tau sampai kapan kita berada di dunia ini. Dan kita juga tidak akan pernah tau apakah kita masih punya waktu untuk melunasi hutang2 kita. Sedangkan Allah berfirman kewajiban kita sebagai umat muslim dna muslimah untuk melunasi hutang2 kita sebelum ajal menjemput kita. Karena apabila kita belum melunasi hutang2 kita dan Allah telah memanggil kita, maka jalan kita di akherat akan susah terlebih lagi orang yang memberikan pinjaman pada kita tidak ikhlas akan semakin sulit. Waallahu’alam
Kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi di esok hari. Maka segera lunasi hutang2mu dan memohon ampunlah pada Allah Yang Maha Kuasa.

13
Feb
09

Kesabaran seorang Istri

Sebenarnya apa tugas utama seorang Istri?
Mengurus rumah, mengurus semua kebutuhan suami, mengurus anak2. Apa hanya itukah Tugas Seorang Istri?
Lalu, bagaimana dengan Tugas Seorang Suami? Hanya mencari nafkah dan jadi Kepala Keluarga semata?
Bagaimanakah kalau Laras sebagai seorg istri yang jg bekerja mencari nafkah? Atau mungkin dibalik saja Laras yang menjadi kepala keluarga mencari nafkah dan mencukupi semua kebutuhan rumah tangga sedangkan Hanafi suaminya hanyalah pengangguran? Apa yg suami lakukan?
Hanafi mencoba melamar2 pekerjaan tapi, tak kunjung jua mendapatkan pekerjaan yg pasti dan tetap sedangkan Laras yang sudah lebih dahulu memiliki pekerjaan yang tetap harus membanting tulang mencari nafkah seharian. Capek, Lelah, yg istri rasakan dengan seabrek masalah yg dihadapi di kantornya. Belum lagi setibanya dia di rumah dia harus tetap mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci baju, mengepel, menyetrika baju dan msh byk lagi hingga tengah malam dia baru bisa istirahat.
Pdhal yg selalu ada dibenak sang istri bgt dia sampai di rumah dia bisa istirahat menghilangkan lelah seharian bekerja sembari nonton tv dan tidur cepat hingga keesokkan harinya bisa fresh. Tapi, apa yg didapatkan sang istri? Rasa lelah yang berkepanjangan.

Lalu, kemana dan ngapain aja sang suami seharian?
Memang Hanafi sering membantu pekerjaan Laras di rumah. Dia bereskan semua pekerjaan rumah tangga sehingga sang istri pulang bisa istirahat total. Dibuatkannya air panas untuk mandi Laras, dibuatkannya teh hangat dan dia siapkanmakan malam utk istrinya tercinta. Terkadang pijitan2an sayang dia berikan utk istri tercintanya hingga istrinya tertidur dengan lelap.
Oh…sangat pengertiannya suamiku mgk hanya ini yg ada dibenak Laras.
Laras adalah seorang wanita yang sangat sabar dalm menghadapi suaminya yg pengangguran, dia sama sekali mementingkan kebutuhannya meski hanya sekedar untuk memanjakan diri ke salon atau untuk beli baju baru. Tetapi, yang dipikirkan selalu suaminya asalkan suaminya bisa makan dan punya pakaian yg bagus dia pun ikut bahagia. Kebahagiaan suaminyalah yg paling ptg untuk Laras. Meski dia sangat jarang sekali suaminya tiap bulan mengajaknya beli bajukah, atau makan di restoran itu bukanlah hal yg ptg buat Laras karena suaminya orang yg sangat senang dengan masakan istrinya.
Tetapi, kehidupan ekonomi tak bisa ditutupi terkadang Hanafi emosi yg gak jelas malah kadang spt anak kecil terlebih lagi apabila Hanafi sedang punya uang dan Laras tak punya uang sepeser pun hanya tinggal untuk transportasi saja. Istrinya rela bangun pagi2 untuk memasak makan sang suami dan bekalnya ke kantor lumayanlah ngirit uang makan. Laras tetap sabar dan ikhlas menjalani hari2nya, meski sangat jauh berbeda dari teman2nya di kantor yang masih bisa jajan atau makan enak.

Di suatu pagi menjelang Laras berangkat kerja Tiba2 si suami berkata “kamu kok berangkatnya selalu telat?” Laras menjawab “aku punya waktu sampai jam 8.15 mas dan gak ada masalah krn bukan hanya aku saja yang telat.” Tiba2 si suaminya berkata “kamu jangan memandang org lain trs ukur diri kamu sendiri gak usah ikut2an kamu tak tinggal lho (berangkat duluan)” dengan nada kesal istrinya menjawab “tinggal aja sana”
Suaminya langsung pergi tanpa pamit dan Laras pergi kerja dengan rasa kesedihan dengan rasa yang aneh thd sikap suaminya kalau dia bernagkat pagi2 suaminya tidak rela tapi kalau berangkatnya telat dia marah2 serba salah jadinya. Memang sih waktu itu suaminya buru2 karena ada panggilan interview di sebuah perusahaan.

Selama di perjalanan Laras berfikir, ini bukan pertama kalinya suaminya sensitif ini. Selama bertahun2 dia hidup bersama suaminya selalu seperti ini terlebih jikalau dia memiliki uang sedangkan istrinya sudah tak memegang uang lagi semuanya habis untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka. Tapi, jika si istri masih punya uang suaminya sangat manis dan tak pernah marah2. Jikalau Laras ngomong baik2 ttg sikap suaminya ini Hanafi tetep memiliki 1000 pembelaan diri, dia gak mau diukur dengan materi krn buatnya materi itu gak penting tp SABAR dan SANTUN yg paling penting. Selalu itu yg Hanafi katakan pd Laras tp, Laras tau betul kebiasaan suaminya.

“Ya Allah kurang apa aku ini di mata suamiku? Sekian lama aku tutupi statusnya yg pengangguran dari keluarga besarku. Tapi kenapa suamiku tak pernah mau mengerti aku? Salah aku apa Ya Allah? Apakah karena aku belum bisa memberikannya seorg anak sehingga dia bisa seperti ini padaku” Laras hanyut dalam do’a2nya dan hanya menangis yg bisa dia lakukan.

Bukan hanya itu juga tak jarang kalau Hanafi di pagi hari sudah marah2 dan ngambek, bgt tiba di rumah dan ketemu istrinya dia mau bercengkrama dg istrinya. Tapi, dia hanya diam 1000 bahasa hingga Laras mau minta maaf terlebih dahulu. Istrinya sering mengalah dalam hal ini karena dia pikir di rumah ini kami hanya berdua kalo gak ada yg diajak ngobrol harus ngobrol sama sapa lagi? Tapi, terkadang jg Laras ttp diam semata2 dia jg mau suaminya menyadari kesalahannya.

Hmmm…Sebenarnya siapakah yg harus disalahkan dalam masalah ini? Si istri yg terlalu perasa atau suaminya yg pengangguran sehingga memaksanya harus mjd seorang yg sensitif? Tapi Laras sangat menerima dengan kondisi suaminya saat ini dan dia tidak menuntut apa2 dari suaminya.
Terkadang sang istri merasa iri dg teman2nya yg serba kecukupan baik dari suaminya punya pekerjaan yg mapan dan gaji tinggi, materi kecukupan, memiliki rumah yg mewah, punya anak…”begitu bahagianya mereka. Sedangkan aku punya motor aja masih kredit dan itu belum lunas, msh ngontrak di rumah yg kecil krn gajiku tak cukup untuk ngontrak rumah yg lbh besar lg, belum lagi suamiku yg pengangguran.” Laras meratapi kondisi rumah tangganya yg sulit “Astaghfirullahaladzim… tak seharusnya aku begini Ampuni aku Ya Allah yang mgk kurang bersyukur atas nikmat dan rahmat yang telah Engkau berikan pada kami” Laraspun terhentak dari ratapannya.

Terkadang Laras ingin berbagi cerita tapi pada siapa dia harus cerita? Temankah? Apakah mereka bisa membantu mengurangi derita Laras? Tentu tidak paling mereka hanya jadi pendengar yg baik dan merasa kasihan padaku, sedangkan aku tidak butuk dikasihani apalagi ini aib rumah tangga yg bukan utk konsumsi publik.
Keluargaku? Jangan, ini akan jadi boomerang utkku habis dicaci dan dimaki oleh keluargaku karena dulu yang ngotot untuk menikah dengan Mas Hanafi itu aku. Gimanapun aku harus menjaga nama baik suamiku. Laras terus berpikir…
Apa mertua aja ya? Secara mertua sudah tau kondisi suamiku, tapi, janganlah mereka sudah pada tua dan gak sepantasnya aku membebani pikiran mereka lagi. Lalu, pada siapa lagi aku harus berbagi untuk mengurangi kesedihanku ini? Laras terus berpikir…

Ya…benar hanya pada Allah aku bisa mencurahkan semuanya. Hanya Pada Dia aku bisa menceritakan semuanya dan hanya Allah yg bisa menolong kami. Meski Laras harus selalu menangis di setiap Sholatnya setidaknya sudah mengurangi beban Laras.
Akhirnya Laras memutuskan hanya menyimpan rapat2 kondisi rumah tangganya dari semua org biarlah dia yg mengalami dan merasakannya. “Syukur Alhamdulillah suamiku jg sgt menyayangi aku, dia tidak menuntut apa2, emang dia kadang sensitif sekali tapi itulah sifatnya nggak apa2 aku terima ini sudah resiko aku mau mengarungi bahtera hidup ini bersamanya hingga ajal menjemput kami.” Laras tersadar dari semua…
setidaknya dia masih bisa bersyukur kalau suami seperti Mas Hanafi tidak pernah menyalahkannya hingga 2,5 tahun mereka belum memiliki keturunan dari rahim Laras. Itu yg membuat Laras semakin semangat menjalani hidup ini, meski banyak kekurangan yg ada didirinya dan suaminya. Pasti semua ini ada hikmah yg baik untuknya dan suaminya.
Laras hanya bisa bersabar, pasrah dan ikhlas menjalani hidupnya bersama suaminya dan terus berharap suatu saat Allah bisa memberikannya keturunan dari rahimnya sendiri dan suaminya jg bisa menjadi org yg sukses, Insyaallah.. apapun keadaan suaminya Laras ikhlas menerimanya karena tujuannya adalah ingin mengabdi dangan setia pada Allah Sang Maha Pencipta dan suaminya.

Ya Allah Kuatkan kami berdua dalam mengarungi bahtera rumah tangga kami dan menjalani kehidupan ini. jangan Engkau berikan kami berdua ujian dan cobaan yang melebihi batas kemampuan kami Ya Allah…Amien

12
Feb
09

Indah Tepat Pada Waktunya

Seneng bgt kalo ngedenger temen2ku udah pada hamil ato yg udah punya anak. Semoga mereka semua selalu sehat dan bisa melahirkan anak2 mereka dengan sehat wal’afiat. Amien…
Tapi, Munafik banget kalo aku gak sedih mendengar cerita2 mereka yg sedang mengalami indah dan nikmatnya mengandung dan mengurus anak2. Terlebih kalau ada orang yg mencemooh aku dan suami yang belum mempunyai keturunan.

Tapi anak datangnya dari Allah SWT kenapa meraka yg kyk kebakaran jenggot sih? Alhamdulillah suami, orang tuaku, mertuaku gak pernah menuntut aku malah mereka selalu mendo’akan aku dg ikhlas.
Sedangkan mereka? Kenapa mereka gak mendo’akan aku malah mencemooh aku dan membanding2kan dg anak2 mereka…

Anak itu rejeki dari Allah kan? Dan hanya Allah yg Maha Tau kapan aku siap utk diberikan titipan Amanah Oleh-Nya…Ampuni mereka semua yg telah mencemooh kami Ya Allah…
Jujur aku jg ingin menjadi istri yg sempurna untuk suamiku tp, hingga 2 tahun ini aku belum bisa menjadi istri yg sempurna dg memberikannya keturunan.
Semua ikhtiar telah kami lakukan mgk kini saatnya aku dan suami harus banyak2 bersabar, pasrah dan ikhlas lagi dalam menjalani ini semua.

Tapi aku sangat yakin suatu saat Allah akan menjadikannya indah tepat pada waktunya nanti…Insyaallah…Kuatkan Kami Ya Allah Menghadapi semua ini…Amien

12
Feb
09

…2 tahun ku menunggumu…

Anakku sayang… tidakkah kau merindukan Ayah dan Bundamu?

Tidakkah kau ingin menemani Ayah dan Bunda di dunia ni Sayang?

Anakku tolonglah kau hadir menemani hari2 Ayah dan Bunda di dunia ini Nak…

Kita akan bermain bersama…, belajar bersama…, liburan bersama…, betapa indahnya jika kau ada disisi kami Nak.

Tatung, Titi, Uti dan Kakungmu menantikan kehadiranmu di rahim Bunda Sayang…, dan hingga nanti pada saatnya Engkau akan bunda lahirkan dari rahim Bunda ini…

Ijikanlah mereka bisa melihatmu, menggendongmu, meyayangimu dan mendo’akanmu Nak sebelum Allah memanggil mereka semua…

2 tahun sudah Bunda menunggumu sayang, hingga berbagai usaha telah Yah dan Bunda lakukankan tapi Kau tak kunjung datang disisi kami Nak. Tidakkah Kau merindukan kami Anakku? Tidakkah kau tau Anakku begitu bayak orang dan saudara2mu mengolok2 kami, yang semena2 thd kami karena hingga kini kami belum bisa memilikimu Nak? Begitu sakitnya hati kami thd ulah mereka Nak. Kumohon padamu Anakku…, datanglah pd Bunda, Mari kita buktikan pd org2 yg sudah memandang sebelah mata thd Ayah dan Bunda selama ini yang menganggap kami tak bisa memilikimu Nak…

Bunda tau…, Allah sangat sayang padamu Anakku, dan Allah pun sangat menyayangi dan mencintai Ayah dan Bunda mu ini Nak…karena hanya Allah yg Maha Tahu dan Maha Pemberi…Tapi kapan Ya Allah Engaku akan menitipkan Amanah-Mu pd Kami?

Kau akan Bunda jaga dan rawat Nak hingga akhir hayat Ayah dan Bunda… Ayah dan Bunda Mohon Sayang, temani kami didunia dan Insyaallah di Akherat nanti.. Anakku. Bersamamu kami akan menjalani kehidupan ini, bersamamu kebahagiaan kami semakin lengkap…dan kebahagiaan kami ada bersamamu Anakku. Begitu cinta dan sayangnya kami pdmu Anakku…Besar harapan kami utk dpt memilikimu seutuhnya di dunia ini Sayang…Wujudkan impian kami seutuhnya Sayang…Wujudkan keinginan kami utk dapat memilikimu di dunia ini Anakku… Kebahagiaan Ayah dan Bunda ada bersamamu Anakku…, Engkau adalah kebanggaan kami Sayang….

Robbi Habli Min-nas Shalihin… “Ya Tuhanku Anugerahkanlah Kepadaku Seorang Anak Yang Keturunan Orang2 Yang Sholeh..” Allahumma Amien

11
Feb
09

…Sahabat…

Sahabat…
Apa arti sahabat sebenarnya?
Apakah seorang sahabat adalah tempat dimana kita bisa mencurahkan semua isi hati kita, uneg2 kita?
Apakah dia juga mau ikut merasakan apa yg kita rasakan? Baik itu susah, senang, sedih, apakah dia mau?
Apakah seorang sahabat selalu ada setiap kita butuhkan selama 24 jam?

Kalaupun di dunia ini ada seorg sahabat yg selalu ada utk kita disaat kita butuhkan selama 24 jam dia selalu siaga tentu hidup kita akan lengkap.
Tp arti seorg sahabat mungkin hanyalah kiasan atau kamuflase belaka saja?

Ehmmm….tapi kita jg hati2 dg org yg kita anggap sebagai SAHABAT kita. Bisa jadi dia akan menjadi boomerang atau musuh kita.
Karena aku sendiri mengalaminya sahabatku sejak kecil kini telah menganggapku MUSUH baginya dan dia dg semudah itu memutuskan tali persahabatan itu. Padahal keluarga kami mempunyai hubungan yang baik.

Tapi biarlah, Hanya Allah Yang Tau..dan aku sangat paham dia kini sudah sukses, tajir, punya temen yg byk…tp apa krn dia OKB alias Orang Kaya Baru? Ya, mgk dulu dia tinggal di kota kecil jauh dari yg namanya Mall, Cafe, dan hiburan2 sejenisnya. Tapi begitu dia hengkang dr kota kecilnya ke Jogja dan kini dia menetap di Jkt yg kudengar dari bibirnya hanyalah kongkowlah, ngafelah, bilyardlah, partylah dan segalah tetek bengek kehidupan hura2.

Tp bagiku dan teman2 yg kenal dia, dia skrg berubah jadi congkak, angkuh, sombong dan selalu membangga2kan kalo dia bisa jln2 ke Luar Negeri…Alah…Alah…emang ptg gt?

Bagiku, semua yg udah dia capai emang bagus dan aku jg ikut senang. Tp, gayanya yg sok metropolis bgt itu gak ptg bgt menurutku. Tp gak tau menurut dia ya… :D

Dia bukanlah sahabat yg dulu aku kenal, yg sering curhat ttg semua kegiatannya meski hanya lewat surat. Dia kini adalah org asing bagiku..dan mgk bagi dia aku gak pernah ada ato mgk dia gak pernah kenal aku….Never Mindlah…
Satu hal yg msh aku pegang selama ini kalo roda kehidupan ini selalu berputar. Ya mgk dia skrg lg berada diatas tp siapa yg tau suatu saat nanti dia akan berada dibawah ya kan? Dan aku yakin suatu saat nanti dia pasti akan membutuhkan aku lagi…

Tapi yang aku heran katanya dah sukses tp utang 300 ribu aja gak dibayar2 ya? Haahhahaa kasian bgt ya dia? :D
Astaghfirullahaldzim ngomong apa aku ini…aku udah ikhlas kok nolongin dia meski yg dia balas itu sangat menyakitkan.

Bagiku, sahabat itu adalah orang tua kita, mertua kita, saudara2 kandung kita dan yg terpenting adalah SUAMI atau ISTRI kita. Bersama merekalah hidup kita menjadi berguna dan hanya bersama merekalah yg sangat ikhlas dan setia menemani kita menjalani kehidupan ini hingga pada saatnya nanti Allah memanggil mereka semua dan aku tentunya.

Sekarang balik lagi pada kalian semua bagaimana menjabarkan arti seorang SAHABAT itu tadi…

MY FAMILY IS MY TRUE FRIENDS….

11
Feb
09

Hijab

Apakah kewajiban kita sebagai seorg muslimah?
Sudah pasti jawabannya adalah HIJAB.
Ya, sudah kewajiban kita sbg seorang Muslimah untuk menutup auratku dg hijab.

Pada mulanya sewaktu aku kuliah aku memutuskan untuk behijab demi sang Pacar yg org tuanya mau pacar anak mereka juga mengunakan JILBAB.
Entah knp saat itu pula aku berjilbab. Tp niat baikku tidak diikuti dg niat baik pacarku. Entah kenapa dia tega menkhianatiku dg perempuan lain. Setelah aku mengenal perempuan itu langsung yg ada di benakku kalo pacarku itu adalah co matre secara dia milih perempuan lain yg kaya. Ya mgk yg dibanggakan adalah kekayaan org tuanya.

Karena sakit hatiku itu kulepaskan JILBABku sayang memang dan sungguh berdosanya aku ketika itu. Dari JILBAB aku senang pakai tank top, celana pendek, kaos2 pendek, rok mini dan masuk ke dalam temaramnya kehidupan malam yg penuh dg hingar bingar. Dan masih saja hanyalah sakit hati dan kekecewaan dari seorang pria yg aku dapatkan dan mgk kebahagiaan duniawi.
Astaghfirullahaldzim…apa yg aku lakukan kala itu…???

Setelah aku lulus kuliah semua aku tinggalkan kehidupanku yg penuh dg dosa dan jauh dari Pemilik Nyawaku yaitu ALLAH SWT.
Aku kembali lagi menjalankan kewajibanku yaitu sholat yg sduah lama sekali aku tinggalkan. Meski aku blm memutuskan utk kembali berjilbab tp pondasi agamaku aku bangun lagi dg sholat 5 waktu dan sholat sunnahnya, membaca Al-qur’an.

Hingga aku kenal dg seorg pria yg telah mengajari aku akan berartinya hidup ini. Dari dia aku tau sdkt demi sdkt soal agama.
Ternyata semua yg ada di dunia ini adalah sementara dan penuh dg ujian. Kenapa aku menyia2kan hidup ini dg penuh DOSA? AMPUNI AKU YA ALLAH….
Pria itu telah membukakan mataku akan kewajibanku sebagai seorg MUSLIMAH. Dalam hatiku berkecambuk apakah kali ini aku berhijab hanya karena Allah atau hanya utk mendapatkan simpati? Aku tidak mau kebodohanku itu terulang lagi. Buku demi buku ttg HIJAB kau pelajari dg sesakma. Setiap hari aku tak luput memohon petunjuk-NYA. Di keheningan malam sehingga aku larut dalam Tahajud dan do’aku tak jarang aku menangisi kebodohanku selama ini dan memohon ampunan Dari-Nya Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Hingga di suatu saat, sewaktu aku terlelap dalam tidur siang 1 mgg sebelum pernikahanku Allah Menjawab do’a2ku dimana dalam mimpiku aku ditunjukkan seorg wanita berJILBAB putih. SUBHANNALLAH…aku semakin mantap untuk meutup auratku dg hijab. Setelah menikah akupun memutuskan utk berhijab. Suamiku bilang “Alhamdulillah kamu bisa melaksanakan kewajibanmu sbg seorg muslimah. Meski ini bukanlah aku yg memaksa tp Insyaallah kamu ikhlas dan ridho menjalani ini semua dan semua ini karena ALLAH”. Tak kusadar air mata ini jatuh membasahi pipiku….

Terima Kasih Ya Allah Telah Engkau berikan aku Hidayah-MU sebelum aku menutup mataku dan kembali kepada-Mu Ya Allah. Alhamdulillah aku msh dikasih kesempatan utk bertaubat di jalan Allah.
Terima Kasih jg kepada-Mu Ya Allah telah Engkau pilihkan kepadaku pendamping yang bisa menyadarkan aku dari semua dosa2 yg pernah aku lakukan selam hidupku…

Kini, aku hanyalah ingin menjalani hidup ini dg Pasrah, Ikhlas dan tetap Istiqomah. Semoga Engkau mau mengampuni semua dosa2ku dan Engkau berikan kepadaku keturunan yg Sholeh dan Sholehah…Allahumma Amien




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.