Ibu… kasih dan sayangmu tiada tara…9 bulan kau mengandungku dg penuh kasih sayang hingga akhirnya aku dilahirkan ke dunia ini.
27 tahun yang aku engkau lahirkan dari rahimmu. Aku hanyalah seorang bayi yang belum bisa berbuat apa2 kecuali menangis. Lapar, haus, ngantuk kuisyaratkan lewat tangisan.
Kau begitu sabar melayani aku, Air Susumu adalah yg paling berharga untukku. Selama 24 jam kau selalu menjagaku, mengawasiku, menyayangiku. Lelah, Lapar, Ngantuk kau kesampingkan hanya untuk mengurusku.
Aku terus tumbuh menjadi anak kecil yg manis, kenakalan demi kenakalanku engkau tanggapi dg sabar. Terlebih lagi aku terlahir sebagai anak bontot yang sangat manja, semua kemauanku harus di nomer satukan.
Di usia remajaku engkau masih setia berada disisiku Ibu. Dan kini aku telah tumbuh dewasa dan mandiri terlebih lagi kini aku telah menikah. Meski kini aku bertanggung jawab penuh thd suamiku tp aku akan selalu menjaga dan merawat penuh Ibu hingga akhir hayatku.
Meski terkadang kita berbeda prisip dalam hidup dan terkadangpun engkau selalu ikut campur dlm urusan rumah tanggayang kubangun baru 2 tahun, tp aku tau ini semua adalah bentuk dari rasa khawatirmu Ibu…
Ibu…, munafik sekali apabila aku tak pernah sakit hati thd perkataan2mu. Jujur terkadang aku sangat kecewa thdmu Ibu, terkadang engkau bgt menyakiti perasaanku dan suamiku Ibu dan itu tanpa engkau sadari kami telah terluka, karena kini engkau sudah mulai pelupa.
Terkadang aku ingin marah, berontak atas ketidakadilan ini. Engkau begitu membangga2kan kedua kakak2ku. Aku tau mereka memiliki pekerjaan yg mapan dan penghasilan mereka sgt besar ketimbang aku. Tapi, kini apakah mereka mau mengurusmu Ibu? Mereka sibuk dg urusan2 mereka sendiri. Sedangkan aku, aku msh mau mengurusmu Bapak dan Ibu. Meski penghasilanku sgt kecil tp setiap bulan selalu kupenuhi kebutuhan rumah meski itu hanya sekedar minyak goreng, sabun cuci, susu bapak dan semir rambutmu. Aku tak pernah mengeluh melakukan ini semua. Aku sanggat ikhlas karena pengorbananku tak sebandingkan engkau Ibu.
Tetapi disaat aku tak bisa mencukupi kebutuhanmu untuk sementara waktu, engkau seakan2 sgt marah. Dan selalu mengungkit dan kata2 yang keluar dr bibirmu itu sgt menyakitkan hatiku. Seolah2 engkau tdk ikhlas pabila aku dan suami makan, minum, dan tidur gratis di rumahmu Ibu… Sebegitu perhitungannyakah engkau padaku Ibu?
Lalu, bagaimana dg kedua anak2 kebanggaanmu Ibu? Apakah mereka pernah memikirkan kebutuhanmu stp bulannya Ibu? Apakah mereka jg mau mencukupikebutuhanmu Ibu?
Ya Allah Apa salahku sehingga kedua org tuaku memperlakukan aku dan suami sgt tidak adil seperti ini?
Disaat aku keluar dr rumahmu, engkau selalu membutuhkan aku, engkau sengaja memasakkan makanan kesukaanku hanya agar aku mau menginap di rumahmu. Tapi, kenapa disaat sekarang aku sudah tinggal bersamamu sikapmu sgt berubah 180 derajat. Apakah aku harus membayar layaknya aku mengontrak rumah? Begitukah Ibu? Begitukah Bapak?
Hatiku begitu sakit melihat kalian melakukan ketidakadilan ini thdku Ibu…terlebih lagi thd suamiku seakan2 engkau belum bisa menganggapnya sebagai anaknya sendiri….
Naudzubillahimindhalik…
terkadang aku melihat engkau bersikap manis thd suamiku jikalau engkau membutuhkan dia untuk mengantarkanmu ke pasar. Tapi apabila engkau tidak butuh dia, engkau sgt semena2 thd suamiku, org yg sgt aku cintai.
Engkau sering kali memaksanya menghabiskan semua makanan yg sudah lebih dari 2 hari yg mgk Ibu sendiri tidak suka.
Kenapa engkau lakukan ini semua terhadap kami Ibu, Pak?
Apakah kalian menginginkan kami keluar dr rumah kalian? Katakan Pak, Bu… Jikalau memang itu yg kalian inginkan kami sgt siap untuk keluar dr rumah kalian krn memang sejak awal kami enggan tinggal di rumah kalian. Semua ini kami lakukan hanyalah bentuk kasih sayang kami thd kalian berdua.
Tapi tolong Pak, Bu katakan pada kami yg sejujurnya jgn dg kiasan2 semata, yg memang kami sgt paham dg kiasan yg terlontar dr bibir kalian.
Kesabaran kami ada batasnya Ibu, dan kami bukanlah Nabi yang sangat sabar ketika dicaci dan dimaki. Tetapi, kami hanyalah manusia biasa yg memiliki keterbatasan kesabaran.
Setiap perkataan yang keluar dr mulut orang tuanya merupakan do’a bagi anak2nya bukankah begitu Ibu?
Tapi kenapa, terkadang yg keluar dr bibirmu itu sgt menyakitkan hatiku?
Terlebih kini 2 tahun aku menikah aku blm jg bisa memberikan kalian seorg cucu, pernah terlontar dr bibir Bapak dan Ibu kata2 yg sgt menyakitkan aku dan suami tanpa kalian sadari. Ingin rasanya aku tinggalkan rumah untuk selamanya. Rasa marah dan kecewa menyelimuti hatiku dna suami…
MasyaAllah tak kusangka itu keluar dr bibir org tuaku….Ampuni mereka Ya Allah
Tapi terlepas dr itu semua aku tetap sayang dan mencintai kedua org tuaku. Suatu saat aku bisa membuktikannya semua pd kalian Pak, Bu…
Kumohon dengan sangat tolong jadilah org tua yg sabar dan ikhlas dlm menjalani kehidupan ini. Dan Kumohon tolong terima suamiku sebagai anakmu bukan hanya sebagai suamiku…
Ya Allah, Ampuni semua dosa2 dan kesalahan2 kedua org tua kami Ya Allah. Tambahkanlah kesabaran dan keikhlasan pd diri mereka. Jikalau tiba saatnya mereka Engkau panggil, Panggilah mereka dalam keadaan Khusnul Khotimah…Amien
Bapak, Ibu kasih sayangmu sepanjang masa ampuni anak bontotmu ini yg belum bisa memberikan dan memenuhi semua kemauan kalian. Dan maafkan pula anakmu belum bisa mengembalikan derajat dan status yang sama spt dulu yg pernah kalian miliki.
Kami Mohon do’akanlah kami semua anak2mu dan menantu2 kalian. Do’akan kami secara ikhlas dan tanpa pamrih… Karena do’a yg tulus dr kalianlah yang InsyaAllah diijabah oleh Allah…
Allahumma Amien